Blog Pelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah

Thursday, 12 December 2013

Persajakan dalam Puisi

Persajakan dalam Puisi--
          Dalam puisi, bunyi merupakan unsur puisi yang mengandung efek keindahan dan tenaga untuk mengekspresikan gagasan. Bunyi selain mengandung unsur-unsur musik, seperti nada, irama, tempo, dan jeda, juga mempunyai tugas yang lebih penting lagi, yakni menimbulkan efek rasa, bayangan, memperdalam makna, dan menimbulkan efek khusus. Pola-pola pengulangan bunyi dalam puisi disebut dengan rima.

          Rima dibedakan menjadi dua. Yakni rima asonansi (pengulangan bunyi vokal) dan rima aliterasi (pengulangan bunyi konsonan).

          Pengulangan bunyi yang menimbulkan efek merdu dan berirama disebut efoni. Contoh bunyi vokal a, i, u, e, o dan sengau m, n, ng, ny. Bunyi ini cocok untuk menimbulkan kesan keindahan, kemesraan, kegembiraan, kerinduan.

          Pengulangan bunyi yang menimbulkan efek tidak merdu dan terkesan parau disebut kakofoni. Contohnya k, p, t, s, b, d, m. Bunyi ini cocok untuk menimbulkan kesan kekuatan, tekanan, kekacauan, kehancuran.

          Di samping rima di atas, ada juga jenis rima berdasarkan bunyi yang terletak di akhir larik/baris, yaitu rima rata/sama, rima berpeluk, rima kembar, dan rima silang/berselang (Tentang ini silakan kamu baca lagi di arsip JENIS RIMA BERDASARKAN BUNYI DI AKHIR LARIK).

Sumber foto: Google

Saturday, 7 December 2013

Puisi Lama dan Contohnya

Puisi Lama dan Contohnya--
Puisi Indonesia dapat digolongkan berdasarkan kriteria kurun waktu atau zaman, kriteria isi, dan kriteria bentuk atau gaya pengungkapan yang kadang-kadang disebut pula dengan tipe. Berdasarkan kurun waktu atau zamannya, puisi Indonesia dapat dibedakan menjadi puisi lama dan puisi baru (modern). Dengan membagi puisi Indonesia berdasarkan kurun waktu atau zamannya, sebenarnya kita juga telah membedakan bentuk dan sifatnya. Berdasarkan sifatnya, puisi lama merupakan milik bersama sehingga siapapun yang mampu menghapalnya, dialah yang memilikinya.

Adapun berdasarkan bentuknya, puisi lama pada umumnya berpola (terikat oleh beberapa aturan). Artinya, sebagian besar berbentuk cipta sastra yang terikat oleh jumlah baris, jumlah kata, atau jumlah huruf. Contohnya pantun. Akan tetapi, ada bentuk puisi lama yang tidak beraturan bentuknya, misalnya puisi mantra.

Contoh Puisi Lama:
a. Mantra
b. Pantun
c. Pantun Berkait
d. Talibun
e. Pantun Kilat (Karmina)
f. Gurindam
g. Syair
h. Seloka
i. Ruba'i
j. Kit'ah
k. Nazam
l. Gazal
m. Masnawi

Karya Sastra Klasik

Karya Sastra Klasik-
Sastra klasik yang bisa juga disebut sebagai sastra tradisional adalah karya sastra yang tercipta dan berkembang sebelum masuknya unsur-unsur modernisme ke dalam karya sastra.
Dalam ukuran waktu, sastra klasik (Nusantara) dibatasi sebagai sastra yang berkembang sebelum tahun 1920-an, yakni rentang waktu sebelum lahirnya tren sastra Angkatan Balai Pustaka.

Bentuk-bentuk Karya Sastra Klasik
a. Mantra
b. Pantun
c. Pantun Berkait
d. Talibun
e. Pantun Kilat (Karmina)
f. Gurindam
g. Syair
h. Seloka
i. Ruba'i
j. Kit'ah
k. Nazam
l. Gazal
m. Masnawi

2. Berbentuk Prosa
a. Bidal
b. Hikayat
c. Sejarah (Tambo)
d. Dongeng
e. Kisah

Friday, 6 December 2013

Teori | Unsur Intrinsik Puisi

Teori | Unsur Intrinsik Puisi--
Puisi adalah bentuk karya sastra yang menggunakan kata-kata indah dan kaya makna. Keindahan sebuah puisi disebabkan oleh diksi, majas, rima, dan irama yang terkandung dalam karya sastra tersebut. Adapun kekayaan makna yang terkandung dalam puisi disebabkan oleh pemadatan segala unsur bahasa. Bahasa yang digunakan dalam puisi berbeda dengan yang digunakan dalam keseharian kita. Puisi menggunakan bahasa yang ringkas, namun kaya makna. Kata-kata yang digunakannya adalah kata-kata konotatif, yang mengandung banyak penafsiran dan pengertian.

Secara garis besar, unsur-unsur puisi terbagi dalam dua macam, yakni struktur fisik dan struktur batin. Berikut adalah uraian yang saya kutip dari buku Teori dan Apresiasi, Herman J.Waluyo (1995).

1. Unsur Fisik
Unsur fisik terbagi atas (silakan klik untuk penjelasan lebih lanjut):
a.Diksi (Pilihan Kata)
b.Pengimajian (Citraan)
c.Kata konkret
d.Bahasa Figuratif (Majas)
e.Rima
f.Tata Wajah (Tipografi)

2.Unsur Batin
Unsur batin terbagi atas:
a.Tema
b.Perasaan
c.Nada dan Suasana
d.Amanat

Contoh Kalimat Majemuk

Contoh Kalimat Majemuk--
Kalimat majemuk adalah gabungan sekurang-kurangnya dua klausa. Jenis kalimat majemuk dapat diketahui melalui kata hubung yang digunakan.

1. Kalimat Majemuk Setara (KMS)
Adalah kalimat majemuk yang kedua klausanya memiliki kedudukan yang setara.
1.1 KMS Penggabungan (kata hubungnya: dan, lagi, serta, sambil)
1.2 KMS Penguatan (bahkan, apalagi)
1.3 KMS Pertentangan (atau)
1.4 KMS Pemilihan (tetapi, melainkan, sedangkan)
1.5 KMS Meneruskan / Urutan Waktu (kemudian, lalu, lantas, selanjutnya)
Contoh: Anak itu pandai dan rajin sekali.
Gabungan dari kalimat:
1) Anak itu pandai.
2) Anak itu rajin sekali.

2 Kalimat Majemuk Bertingkat (KMB)
Adalah kalimat majemuk yang salah satu klausanya memiliki kedudukan yang lebih tinggi (biasanya yang memiliki kedudukan lebih tinggi adalah klausa induk)
2.1 KMB dengan anak kalimat pengganti subjek
Anak yang berbaju merah itu adikku.
2.2 KMB dengan anak kalimat perluasan subjek
Budi, kakak iparku, sudah tiba.
2.3 KMB dengan anak kalimat pengganti predikat
Ayahku orangnya gemuk.
2.4 KMB dengan anak kalimat pengganti objek
Ia mengetahui bahwa kami telah menikah.
2.5 KMB dengan anak kalimat pengganti keterangan
a. Keterangan Waktu (ketika, selama, sewaktu, sejak, sebelum, sambil)
b. Keterangan Tujuan (agar, supaya, biar)
c. Keterangan Konsesif (walau, meski, kendati, sekalipun)
d. Keterangan Syarat (jika, asal, andai)
e. Keterangan Sebab (karena, oleh karena, sebab)
f. Keterangan Akibat (sehingga, maka, sampai-sampai, akibatnya)
g. Keterangan Cara (......dengan cepat)
h. Keterangan Alat (......dengan sepeda)
i. dsb.
Contoh: Anak itu rajin belajar sehingga selalu menjadi bintang kelas.
Gabungan kalimat:
1) Anak itu rajin belajar
2) Anak itu selalu menjadi bintang kelas.

3. Kalimat Majemuk Campuran (KMC)
Adalah kalimat majemuk yang merupakan campuran dari KMS dan KMB.
Contoh: Anak itu pandai dan rajin belajar sehingga selalu menjadi bintang kelas.

Pergeseran Makna

Pergeseran Makna--
Pergeseran Makna atau biasa disebut juga dengan Perubahan Makna meliputi Sinestesia, Asosiasi, Ameliorasi, Peyorasi, Perluasan Makna, dan Penyempitan Makna.

1.Sinestesia: perubahan makna yg disebabkan oleh penangkapan dua indera yg berbeda
Contoh: Sambil tersenyum manis, ia memandangku.
Keterangan: manis mengalami pergeseran dari indera pengecap menjadi indera penglihatan

2.Asosiasi: perubahan makna secara kiasan
Contoh: Orang itu sudah menerima amplop dari pengusaha itu
Keterangan: amplop= uang sogok

3.Ameliorasi : perubahan makna menjadi lebih sopan
Contoh: Ia bekerja sebagai pramuniaga
Keterangan: pramuniaga lebih sopan dibanding pembantu atau babu

4.Peyorasi: perubahan makna menjadi kasar
Contoh: Ia bekerja sebagai pelayan toko
Keterangan: pelayan toko lebih kasar dibanding pramuniaga

5.Meluas (Generalisasi): perubahan makna karena pemakaiannya lebih meluas
Contoh: Selamat pagi, Saudara!
Keterangan: Dalam konteks ini Saudara dipakai bukan untuk seseorang yg memiliki hubungan darah dengan kita, tetapi untuk orang lain yg tidak sedarah.

6.Menyempit (Spesialisasi): perubahan makna karena pemakaiannya menyempit
Contoh: Saya memiliki tiga saudara.
Keterangan: Dalam konteks ini Saudara dipakai untuk seseorang yg memiliki hubungan darah dengan kita, bukan untuk orang lain yg tidak sedarah.
.

Macam-macam Puisi

Macam-macam Puisi--
Berdasarkan cara penyair mengungkapkan isi atau gagasan yang hendak disampaikan, puisi terbagi dalam jenis-jenis berikut:
1. Romance adalah sajak berisi curahan perasaan cinta.
2. Elegi adalah sajak yang berisi curahan perasaan sedih atau ratapan.
3. Ode adalah sajak yang berisi sanjungan kepada orang yang dianggap berjasa dalam masyarakat.
4. Himne adalah sajak yang berisi pujaan/pujian kepada Allah, tanah air, seseorang atau sesuatu yang dimuliakan.
5. Epigram, slogan, semboyan, atau sajak yang berisi semboyan ajaran hidup. Tujuannya menanamkan semangat perjuangan hidup, baik untuk diri sendiri maupun yang lain.
6. Satire adalah sajak yang berisi sindiran, kritik, atau kecaman, misalnya ditujukan untuk menyindir kepincangan sosial dan kebobrokan moral.
7. Balada adalah sajak yang berisi cerita atau kisah.

Wednesday, 4 December 2013

Karakteristik Novel Angkatan 20/30-an

Karakteristik Novel Angkatan 20/30-an--

a. Tema berkisar masalah adat dan kawin paksa
b. Isinya kebanyakan mengkritik keburukan adat lama dalam soal perkawinan.
c. Tokoh-tokohnya diceritakan sejak muda hingga meninggal dunia
d. Konflik yang dialami para tokoh kebanyakan disebabkan perselisihan dalam memilih nilai kehidupan (barat dan timur)
e. Pleonasme (menggunakan kata-kata yang berlebihan)
f. Bahasa terkesan kaku dan statis
g. Bahasanya sangat santun
h. Para penulisnya kebanyakan berasal dari Pulau Sumatera

Sinopsis beberapa novel Angkatan 20/30-an:
@ Novel Salah Asuhan
@ Novel Layar Terkembang
@ Novel Dian yang Tak Kunjung Padam
@ Novel Sitti Nurbaya
@ Novel Azab dan Sengsara

Monday, 2 December 2013

Materi Tata Bahasa (Struktur dan Ejaan)

Materi Tata Bahasa (Struktur dan Ejaan)--
Selamat datang. Kamu berada di blog Pelajaran Bahasa Indonesia di Jari Kamu, blog tempat belajar Bahasa Indonesia melalui jari-jari kamu.
Internet adalah media yang sangat dekat dalam diri siswa abad ini. Kemajuan internet (teknologi informasi dan komunikasi) dewasa ini sangat berpengaruh besar dalam sendi-sendi kehidupan (para siswa). Kemajuan teknologi tak dapat dibendung namun kemampuan memanfaatkannya untuk hal yang positif, dalam hal ini memperluas wawasan ilmu pengetahuan, adalah sebuah keniscayaan. Melalui blog ini, siswa bisa terus mempelajari materi pelajaran sesuai kemauannya, kapanpun, dan di manapun; tanpa batas ruang dan waktu.
Blog PELAJARAN BAHASA INDONESIA DI JARI KAMU, blog Edukasi, Menghibur, dan Trendy.

Berikut materi yang ada di blog ini terkait dengan ilmu kebahasaan (Tata Bahasa):


Imbuhan:

Kalimat Majemuk:

Majas:

Menyunting Ejaan:

Pergeseran Makna:

Homonim dan Polisemi:

Trio Homo:

Istilah:

Tata Bahasa:

Popular Posts