Blog Pelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah

Friday, 4 November 2011

Langkah-langkah Menulis Sinopsis Novel

          Sinopsis disebut juga ringkasan cerita. Sinopsis hanya sesuai untuk cerita pendek, novel, film, ataupun drama. Sinopsis novel biasanya diletakkan pada sampul belakang novel tersebut. Dari sinopsis tersebut akan diketahui inti cerita novel tersebut.
          Sebelaum kamu membuat sinopsis novel, terlebih dahulu kamu harus menentukan kerangka cerita dalam novel. Kerangka cerita itu terdiri atas judul, tokoh dan perwatakannya, latar, permasalahan atau konflik dalam novel, serta urut-urutan peristiwa cerita.

Berikut ini merupakan langkah-langkah membuat sinopsis novel:

  1. Bacalah dengan cermat novel tersebut.
  2. Pahami isi novel.
  3. Tentukan kerangka cerita novel.
  4. Daftarlah peristiwa-peristiwa penting dalam novel.
  5. Rangkailah peristiwa-peristiwa tersebut dengan kalimat yang padu dalam paragraf-paragraf.


Ingatlah!
Meringkas atau membuat sinopsis novel tidak boleh mengubah cerita, baik latar, tokoh, maupun tema.




Wednesday, 2 November 2011

Gejala Bahasa: Campur Kode dalam Lagu Dilema (Wallpaper Cherry Belle)

Gejala Bahasa: Campur Kode dalam Lagu Dilema (Wallpaper Cherry Belle)--- Wallpaper (Klik pada foto utk memperbesar):

TAG FOTO KAMU

TAG FOTO KAMU

TAG FOTO KAMU

TAG FOTO KAMU

TAG FOTO KAMU

TAG FOTO KAMU

TAG FOTO KAMU

TAG FOTO KAMU

TAG FOTO KAMU

TAG FOTO KAMU
          Campur kode adalah pencampuran antara dua bahasa, bahasa yang satu sebagai bahasa utama yang memiliki fungsi dan keotonomiannya sedangkan bahasa yang lain yang terlibat dalam peristiwa tutur itu hanyalah berupa serpihan-serpihan kata saja.
          Lagu Dilema yang dinyanyikan girlband Cherry Belle adalah salah satu contoh lagu masa kini yang melakukan campur kode. Berikut petikan lagunya:

Tuhan tolong aku, Ku tak dapat menahan rasa didadaku
Ingin aku memiliki, Namun dia ada yang punya

Tuhan bantu aku, Ternyata dia kekasih sahabatku
Entah apa yang harus ku katakan , Hatiku bimbang jadi tak menentu

Bukan maksud diriku melukai hatimu,
Namun aku juga wanita
Yang ingin merasakan cinta,

*Reff
Never never want you
Really really love you
Maafkan aku mengecewakanmu
Really really love you
Never never leave you
Segera aku melupakan dirinya
(Kembali ke Reff, ulang satu kali)

Bukan maksud diriku melukai hatimu
Namun aku juga wanita
Yang ingin merasa jatuh cinta
(Kembali ke Reff, ulang dua kali)


          Dari kutipan di atas, lagu yang disukai anak saya yang berusia 3 tahun ini, menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa utama, memiliki identitas sebagai lagu berbahasa Indonesia, dan tersaji untuk penikmat musik Indonesia. Bahasa lain, dalam hal ini bahasa Inggris, hanyalah serpihan-serpihan yang ikut nimbrung. Inilah yang dinamakan dengan campur kode. Pembahasan tentang ini, akan kalian temui ketika duduk di bangku kuliah jurusan bahasa kelak.


Video:


Sumber:
Lirik lagu: Gudanglagu
Foto: http://www.squidoo.com/cherry-belle
Video: Youtube

Tuesday, 1 November 2011

Mencermati Puisi Mbeling

          Dalam bahasa Jawa, mbeling berarti 'nakal, keras kepala'. Kata ini digunakan oleh Remy Silado dan kawan-kawan untuk memberi predikat pada puisi yang menggugat puisi yang dianggap mapan dalam konvensi estetisnya, seperti puisi Rendra, Goenawan Muhammad, Sapardi Djoko Damono, dan lain-lain.
          Puisi mbeling muncul pada awal tahun 1970-an. Sajak-sajak ataupun karya-karya penyair mapan ditiru untuk mencari efek kejenakaan. Bahasa apa saja dapat digunakan dalam puisi mbeling. Kalimat-kalimat yang digunakan dalam wujud dari pengungkapan yang bersifat ringan, main-main, dan kadang-kadang lucu.
          Walau berusia singkat (1971-1977) sekalipun 'mbeling', tidak jarang puisi itu mengandung nilai yang dapat kita petik. Misalnya sajak berikut ini yang lebih mempersoalkan dosa sendiri daripada mempersoalkan dosa orang lain.

         Aku Ingin Tanya
     Siapakah yang paling banyak dosa
     Pelacur,
     Garong, 
     Koruptor,
     Kau,
     Atau aku?

Foto: Tokoh Puisi Mbeling, Sutardji Calzoum Bahri (Google)

Monday, 31 October 2011

Mencermati Puisi Sufi

          Puisi Sufi adalah puisi yang ditulis oleh penganut paham tasauf, puisi yang mengandung nilai-nilai tasauf, atau puisi yang mengandung pengalaman tasauf. Puisi sufi biasanya mengungkapkan kerinduan penyairnya kepada Tuhan, hakikat hubungan makhluk dengan Sang Khalik, dan segala perilaku yang tergolong dalam pengalaman religius.

          Contoh berikut merupakan cuplikan puisi yang berjudul "Tuhan, Kita Begitu Dekat" karya Abdul Hadi W.M.:

Tuhan,
Kita begitu dekat
Sebagai api dengan panas
Aku panas dalam api-Mu
Tuhan,
Kita begitu dekat
Seperti kain dengan kapas
Aku kapas dalam kain-Mu

Sunday, 30 October 2011

Norma dalam Karya Sastra

Norma Estetika:
  1. Karya sastra itu mampu menghidupkan atau memperbaharui pengetahuan pembaca, menuntunnya melihat berbagai kenyataan kehidupan, dan memberikan orientasi baru terhadap apa yang dimiliki. 
  2. Karya sastra itu mampu membangkitkan aspirasi pembaca untuk berpikir dan berbuat lebih banyak dan lebih baik lagi bagi penyempurnaan kehidupannya. 
  3. Karya sastra itu mampu memperlihatkan peristiwa kebudayaan, sosial, keagamaan, atau politik masa lalu dalam kaitannya dengan peristiwa masa kini dan masa datang.
Norma Sastra:
  1. Karya sastra itu merefleksi kebenaran kehidupan manusia. Artinya, karya itu membekali pembaca dengan pengetahuan dan apresiasi yang mendalam tentang hakikat manusia dan kemanusiaan serta memperkaya wawasannya mengenai arti hidup dan kehidupan ini. 
  2. Karya itu mempunyai daya hidup yang tinggi yang senantiasa menarik bila dibaca kapan saja. 
  3. Karya itu menyuguhkan kenikmatan, kesenangan, dan keindahan karena strukturnya yang tersusun apik dan selaras.
Norma Moral:
Karya sastra disebut memiliki norma moral apabila menyajikan, mendukung, dan menghargai nilai-nilai kehidupan yang berlaku. Nilai keagamaan yang disajikan, misalnya, harus mampu memperkukuh kepercayaan pembaca terhadap agama yang dianutnya.

Saturday, 29 October 2011

Tentang Sastra (Lagi), Karakter, dan Kasih Sayang yang Hilang dalam BALADA IBU YANG DIBUNUH

Sastra memperhalus rasa.....
Pembelajaran apresiasi sastra merupakan salah satu cara penanaman karakter atau nilai-nilai moral. Nilai-nilai moral, seperti kejujuran, kesetiaan, pengabdian, keadilan, kasih sayang, dan kepedulian, banyak ditemukan dalam karya-karya sastra. Karya sastra dapat berupa puisi, cerita pendek, novel, maupun drama.

Fungsi utama sastra yaitu memperhalus akal budi, peningkatan rasa kemanusiaan dan peduli sosial, cinta budaya, pembangkit imajinasi, serta penumbuh kembang ekspresi jiwa dan pikiran.

Simaklah puisi berikut:

Balada Ibu yang Dibunuh (Karya W.S. Rendra)

Ibu musang dilindung pohon tua meliang
bayinya dua ditinggal mati lakinya.

Bulan sabit terkait malam memberita datangnya
waktu makan bayi-bayinya mungil sayang.

Matanya berkata pamitan, bertolaklah ia
dirasukinya dusun-dusun, semak-semak, taruhan
harian atas nyawa.

Burung kolik menyanyikan berita panas dendam warga desa
menggetari ujung bulu-bulunya tapi dikibaskannya juga.

Membubung juga nyanyi kolik sampai mati tiba-tiba
oleh lengking pekik yang lebih menggigilkan
pucuk-pucuk daun
tertangkap musang betina dibunuh esok harinya.

Tiada pulang ia yang meski rampas rejeki hariannya
ibu yang baik, matinya baik, pada bangkainya gugur
pula dedaun tua.

Tiada tahu akan merataplah kolik meratap juga
dan bayi-bayinya bertanya akan bunda pada angin
Tenggara.

Lalu satu ketika di pohon tua meliang
matilah anak-anak musang, mati dua-duanya.

Dan jalannya semua peristiwa
tanpa dukungan satu dosa. Tanpa.


Puisi di atas merupakan contoh puisi yang mampu merefleksikan karakter kasih sayang adalah sebuah keniscayaan. Sebagai makna denotatif, kesewenang-wenangan warga desa membunuh musang yang meresahkan mereka berakibat matinya anak-anak musang yang masih kecil. Sebagai makna konotatif, ‘musang’ (refresentasi seorang pencuri) dibunuh/dihakimi oleh massa tanpa belas kasihan telah secara tidak langsung membunuh pula keluarganya yang lain: anak dan istrinya, yang butuh nafkah dari kepala keluarga.

Puisi ini mengajarkan kita, untuk bersikap kasih sayang dan saling menyayangi betapapun sakitnya hati kita. Tak perlu ada balas dendam karena balas dendam dapat menciptakan titik hitam baru dalam jiwa manusia, jiwa kita (Masih segar dalam ingatan, bagaimana semena-menanya tentara pemberontak Lib** yang menyeret, memukul, menginjak-injak, dan melakukan pelecehan seksual terhadap Muammar Khadafi yang sudah tak berdaya).

Manusia yang memiliki rasa kasih sayang, tidak akan melakukan hal sebagaimana yang dilukiskan W.S.Rendra dalam puisi di atas. Sebagai sesama makhluk hidup, musang ataupun pencuri memiliki hak untuk hidup dan mencari makan. Kemarahan membangkitkan sumpah-serapah dan balas dendam, sangatlah manusiawi. Tapi, kemarahan dan balas dendam justru menunjukkan betapa kita adalah pribadi yang tak mau mencoba memahami mengapa orang sampai mau mengambil barang orang lain, tak dapat meredam gejolak emosi dalam diri, dan tak mampu memaafkan. Secara tak sadar, sumpah-serapah kita telah membuat kita menjadi penyumpah, balas dendam yang kita lakukan menjadikan kita seorang pendendam, dan dengan membunuh itu telah membuat kita menjadi seorang pembunuh.

Jadi, lebih baik memiliki rasa kasih sayang daripada membenci, menyumpah, apalagi membalas dendam dengan cara yang keji.

Sudahkah kalian membaca sastra hari ini?









Popular Posts