Blog Pelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah

Monday, 15 October 2012

Ciri-ciri Novel dan Hikayat

Ciri-ciri Novel dan Hikayat--
Kegemaran membaca merupakan kegemaran yang sangat mengasyikkan. Dengan membaca, kita dapat menambah wawasan keilmuan. Kita pun dapat membaca karya-karya sastra, misalnya novel dan hikayat. Dari kedua jenis karya sastra tersebut, ada banyak hal yang dapat kita peroleh. Di antaranya ialah pesan moral, nilai-nilai sosial budaya, nilai-nilai yang bersifat mendidik, dan kepuasan serta kesan tersendiri.
Novel dan hikayat memiliki ciri masing-masing.

Adapun ciri-ciri novel, di antaranya adalah :
1. Terdiri atas jumlah halaman yang cukup banyak.
2. Dibangun oleh unsur intrinsik dan ekstrinsik.
3. Menyajikan permasalahan lebih terperinci jika dibandingkan dengan cerpen.

Adapun ciri-ciri hikayat adalah :
1. Isi ceritanya berkisar pada tokoh raja-raja dan keluarganya (istana sentris).
2. Bersifat pralogis, yaitu memiliki logika tersendiri yang tidak sama dengan logika umum, ada juga ynag menyebutnya fantastis.
3. Mempergunakan banyak kata arkais. Misalnya, hatta, syahdan, sahibul hikayat, menurut empunya cerita, konon, dan tersebutlah perkataan.
4. Tema dominan dalam hikayat adalah petualangan. Biasanya di akhir kisah, tokoh utamanya berhasil menjadi raja atau orang yang mulia.

Novel dan hikayat memiliki unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsik. Unsur-unsur intrinsik adalah unsur yang membangun karya sastra itu sendiri. Unsur-unsur intrinsik, antara lain peristiwa, penokohan, tema, dan latar. Unsur ekstrinsik adalah unsur yang berada di luar karya sastra itu, tetapi secara tidak langsung memengaruhi isi karya secara keseluruhan. Misalnya, latar belakang kehidupan pengarang.

Wednesday, 10 October 2012

Cara Menghitung KEM (Kecepatan Efektif Membaca)

Cara Menghitung KEM (Kecepatan Efektif Membaca)-- Kalian yang sedang duduk di bangku SMP, tentu menemui materi pelajaran B.Indonesia yang satu ini: Membaca Cepat. Untuk kelas VII, Membaca Cepat 200 kata per menit. Untuk kelas VIII, Membaca Cepat 250 kata per menit. Untuk Kelas IX, Membaca Cepat 300 kata per menit.

Berlatihlah sendiri di rumah untuk meningkatkan kecepatan membaca kalian. Kalian dapat menghitungnya dengan rumus:
Membaca Cepat

Misalnya, jumlah kata yang dibaca adalah 500 kata dan waktu yang diperlukan adalah 2 menit.
Jadi,
Membaca Cepat
Untuk kalian yang duduk di kelas IX, tentu masih belum mencapai 300 kpm (kata per menit). Kalian perlu tingkatkan dengan berlatih lagi.

Nah, andai dari hasil membaca cepat kalian terhadap suatu teks bacaan, kalian dapat menjawab benar 8 dari 10 soal yang diberikan, maka rumusnya:
KEM
Ini berarti, penguasaan kalian terhadap teks bacaan yang telah disimak adalah 80%.

Setelah itu, kita perlu hitung juga KEM-nya dengan rumus:
KEM

Jika kalian mampu menyelesaikan membaca suatu teks sebanyak 300 kata per menit, maka:
KEM
Dengan demikian, dapat diketahui bahwa jika kalian telah berhasil membaca cepat 300 kata per menit dengan tingkat pemahaman 80%, kecepatan membaca efektif kalian adalah 240.

Tuesday, 9 October 2012

Menulis Karya Tulis Ilmiah Berupa Makalah

Menulis Karya Tulis Ilmiah Berupa Makalah--
Hasil penelitian dapat ditulis ke dalam karya ilmiah. Melalui karya ilmiah tersebut, peneliti dapat menyampaikan berbagai informasi bermanfaat seputar penelitiannya kepada pembaca. Dalam menulis karya ilmiah, ada hal-hal yang dapat dijadikan sebagai acuan. Dalam pelajaran ini, kita akan berlatih mendaftar informasi-informasi yang perlu ditulis, menentukan gagasan yang akan dikembangkan menjadi karya tulis ilmiah, menyusun kerangka karya tulis ilmiah, mengembangkan kerangka menjadi karya tulis ilmiah dengan dilengkapi daftar pustaka, dan menyunting karya tulis ilmiah.

Karya tulis ilmiah merupakan salah satu jenis karya tulis yang berisi berbagai informasi. Informasi tersebut merupakan hasil pengamatan dan penelitian. Contoh -contoh karya tulis ilmiah yang dapat kita temukan, antara lain makalah, laporan penelitian, skripsi, tesis, dan disertasi. Dalam pelajaran ini, kita akan berlatih untuk menulis makalah.

Karya tulis ilmiah berupa makalah yang akan kita tulis memiliki karakteristik. Karakteristik tersebut harus kita pahami terlebih dahulu sebelum Anda memulai menulis. Karakteristiknya adalah sebagai berikut.
1. Merupakan hasil kajian literatur atau laporan pengamatan dan penelitian.
2. Menampilkan sejauh mana pemahaman penulis terhadap permasalahan yang dibahas.
3. Menampilkan kemampuan meramu berbagai sumber informasi ke dalam sebuah karya tulis yang utuh.

Dalam makalah, hal-hal yang harus kita lengkapi adalah:
1. Judul
2. Pendahuluan
3. Permasalahan
4. Pembahasan
5. Penutup (Berupa Simpulan dan saran)
6. Daftar Pustaka

Sebagai contoh, kita akan menulis sebuah makalah tentang pengelolaan mata air bagi kesejahteraan masyarakat. Kita harus mendata pokok-pokok penting yang akan kita tuliskan ke dalam makalah. Pokok-pokok penting itulah yang akan menjadi acuan kita saat menulis kerangka karangan.

Bermain Peran dengan Improvisasi atau Naskah Drama yang Ditulis Siswa

Bermain Peran dengan Improvisasi atau Naskah Drama yang Ditulis Siswa--
Dalam kegiatan mengekspresikan sebuah naskah drama ke dalam sebuah pertunjukan, ada hal-hal yang harus kita pelajari terlebih dahulu. Sebelum pentas, kita juga perlu latihan terlebih dahulu. Kegiatan latihan dalam pementasan drama merupakan wadah untuk mematangkan berbagai aspek pendukung pementasan. Jika kita diberi tugas sebagai seorang aktor dalam drama, manfaatkanlah waktu latihan untuk menghayati watak tokoh yang akan diperankan. Dengan demikian, kita akan dapat memerankan tokoh tersebut dengan baik.

Sebelumnya, untuk melatih penghayatan diperlukan latihan olah sukma. Untuk melatih gerak-gerik dan mimik, kita perlu melakukan latihan olah tubuh, sedangkan untuk melatih intonasi kita memerlukan latihan olah vokal.
Latihan-latihan tersebut sangat penting dilakukan agar saat pementasan berlangsung, tubuh aktor akan siap secara keseluruhan.
Dengan demikian, penonton tidak akan merasa jenuh.

Sebelum memerankan tokoh dalam sebuah drama, kita harus menghayati terlebih dahulu peran tersebut. Dengan demikian, kita akan bermain dengan sangat baik. Setelah kita memahami dan menghayati peran dalam drama, kita perlu melatih gerak-gerik (gestur), mimik (ekspresi wajah), dan intonasi dalam pelafalan dialog. Hal ini bertujuan agar penonton dapat menangkap pesan atau maksud yang hendak disampaikan oleh pemain.

1. Gerak-Gerik (Gestur)
Seorang pemain drama perlu mengontrol tubuhnya sendiri agar sesuai dengan peran yang akan diperankannya. Misalnya, saat kita berperan sebagai seorang guru yang berwibawa tentunya berbeda gestur saat kita berperan sebagai seorang kakek renta. Contoh lainnya adalah saat kita berperan sebagai seorang siswa yang baik dan pintar, tentunya berbeda dengan gestur siswa badung yang pemalas.
Untuk dapat menguasai gestur tokoh-tokoh tertentu dengan baik, kita perlu melakukan latihan olah tubuh. Di samping itu, kita pun perlu melakukan observasi atau pengamatan terhadap figur tokoh yang akan kita perankan. Misalnya, saat kita ditugasi
berperan sebagai seorang guru, kita dapat melakukan pengamatan terhadap guru kita.

2. Mimik atau Ekspresi
Latihan mengolah mimik pun merupakan hal yang tidak kalah pentingnya. Penonton dapat mengetahui suasana hati tokoh yang diperankan melalui mimik yang diperlihatkan oleh pemain. Contohnya, saat pemain berperan sebagai seseorang yang sedang bersedih, tidak
mungkin dia menunjukkan mimik atau ekspresi bahagia.

Agar mimik Anda dapat terlatih dengan baik, kita dapat melakukan kegiatan senam wajah setiap hari. Caranya, yaitu menggerak-gerakkan seluruh otot wajah kita hingga terasa pegal. Hal ini dapat membantu kita melenturkan otot-otot wajah kita sehingga mudah dibentuk untuk menampilkan ekspresi-ekspresi tertentu.

3. Intonasi
Intonasi dalam pelafalan dialog drama sangat diperlukan. Intonasi yang baik akan membuat penonton tidak jenuh dan permainan lebih hidup. Pengolahan intonasi dapat dilakukan dengan cara:
a. menaik-turunkan volume suara;
b. merendah-tinggikan frekuensi nada bicara;
c. mengatur tempo pengucapan;
d. mengatur dan menolah warna serta tekstur suara.

Saat mengekspresikan dialog drama, ada beberapa hal yang harus kita perhatikan, yakni:
1. Memahami dialog drama dengan saksama.
2. Berkonsentrasi pada karakter atau watak yang telah kita dapatkan.
3. Mengontrol emosi.
4. Konsisten pada karakter yang telah kita pelajari.

Dalam ilmu seni peran, kegiatan-kegiatan tersebut terangkum dalam latihan olah sukma. Latihan olah sukma ialah salah satu bentuk latihan dasar yang bertujuan untuk memasukkan karakter tokoh tertentu ke dalam diri pemain. Dengan demikian, saat sedang memerankan suatu tokoh, pemain atau aktor tersebut benar-benar telah melepaskan karakter asli dalam dirinya selama pementasan berlangsung.

Adapun tahapan-tahapan latihan olah sukma adalah:
1. Konsentrasi, yakni pemusatan pikiran dalam mempelajari sebuah karakter.
Seorang aktor harus dapat berkonsentrasi penuh seakan mengubah keseluruhan dirinya menjadi peran tersebut.
2. Imajinasi, yakni kemampuan mengembangkan daya khayal.
Hal ini sangat diperlukan dalam pendalaman sebuah peran untuk menghidupkan sesuatu yang tidak ada menjadi ada. Misalnya, membayangkan panggung sebagai sebuah taman yang dikelilingi pepohonan rindang. Latihan pengembangan imajinasi dapat dilakukan dengan cara:
a. Membayangkan benda yang tidak ada dan tidak dapat disentuh menjadi seolah-olah ada dan dapat disentuh.
b. Membayangkan sosok orang yang tidak ada menjadi seolah-olah ada dan dapat berinteraksi.
c. Membayangkan kejadian yang belum pernah ada dan dialami. Misalnya, membayangkan rasa sedih saat kehilangan seseorang yang kita sayangi.
3. Ingatan emosi, yakni meningkatkan kepekaan terhadap emosiemosi alamiah yang mungkin terjadi.
Caranya adalah dengan mengingat emosi-emosi dasar seperti tertawa, menangis, dan marah. Kemudian, mengombinasikan emosi, yakni tertawa, tiba-tiba marah, lalu menangis.
4. Relaksasi, yakni meringankan ketegangan pada tubuh akibat lelah saat latihan.
5. Observasi, yakni meninjau secara langsung karakter tokoh yang akan diperankan. Misalnya, mengamati kehidupan orang gila saat aktor akan bermain drama sebagai orang gila.

Menentukan Nilai-nilai dalam Cerpen "Sandal Jepit Merah" Karya S.Rais

Menentukan Nilai-nilai dalam Cerpen "Sandal Jepit Merah" Karya S.Rais--
Selain dapat dijadikan sebagai salah satu media hiburan, kegiatan membaca cerpen pun dapat memberikan pelajaran berharga bagi kita. Hal tersebut dapat kita petik melalui nilai-nilai yang disampaikan oleh pengarang.
Dalam sebuah karya sastra, pengarang seringkali mengekspresikan
berbagai fenomena kehidupan. Melalui karya sastra, pengarang dapat mengemukakan pandangan-pandangannya tentang suatu hal dan menyampaikan berbagai nilai kehidupan, seperti nilai moral, nilai budaya, dan nilai sosial.

Berikut nilai-nilai yang terkandung dalam cerpen "Sandal Jepit Merah" Karya S.Rais:

1. Nilai Moral
Dalam cerpen tersebut dikisahkan tentang seorang perempuan tua yang memiliki masa lalu yang sangat menyedihkan. Awalnya, perempuan itu hidup bahagia. Akan tetapi, setelah kematian anak semata wayangnya, hidupnya berubah menjadi sebuah kesedihan yang berkepanjangan. Akan tetapi, perempuan itu tidak pernah putus asa. Dia terus berjuang untuk mempertahankan hidupnya. Bahkan, perempuan tersebut tetap tegar dengan pendiriannya saat dirinya hampir terjerumus ke dalam lembah hitam. Hal tersebut dapat dilihat dalam kutipan berikut.

"Berkali-kali majikannya, seorang bandar narkoba, menawarinya untuk bekerja sebagai pengedar barang haram tersebut sekaligus sebagai wanita tuna susila. Tetapi, ia bersikeras walau sebagai pembantu gajinya sangat kecil. Ia tidak tertarik sedikit pun pada penghasilan yang lumayan besar seperti yang didapat oleh perempuan-perempuan cantik yang sering berkumpul di rumah majikannya itu.
Lama-lama ia tidak tahan juga, apalagi setelah sang majikan memaksanya untuk mengikuti keinginannya, yaitu menjadikannya seorang wanita tunasusila. Ia bertahan pada pendiriannya dan pergi meninggalkan istana penuh dosa itu."


Dari kutipan tersebut, ada sebuah nilai moral yang hendak disampaikan oleh pengarang. Pengarang hendak mengemukakan bahwa meskipun kita didera kesulitan hidup, kita tidak boleh terjebak oleh nafsu dunia. Kita harus berpegang teguh pada pendirian kita dan pada ajaran agama.

2. Nilai Budaya
Nilai budaya merupakan nilai-nilai yang bertolak dari perilaku kehidupan sosial masyarakat di suatu tempat yang diceritakan dalam karya fiksi. Nilai budaya tersebut dapat mencakup berbagai masalah, di antaranya kebiasaan hidup, adat istiadat, tradisi, keyakinan, pandangan hidup, cara berpikir, dan bersikap.
Dalam cerpen "Sandal Jepit Merah" tersebut, masyarakat yang digambarkan adalah sekelompok orang yang tinggal di kawasan pinggiran kota. Mereka tergolong ke dalam strata sosial menengah ke bawah. Hal tersebut dapat dilihat dalam kutipan berikut ini.

"Dengan berbekal keterampilan di bidang bangunan, Mamat mampu membiayai hidupnya dan menyewa sepetak kamar di pinggiran kota. Kebahagiaannya makin lengkap setelah dari rahimnya lahir seorang anak sehat walaupun saat itu usianya baru enam belas."

3. Nilai Sosial
Dalam cerpen tersebut terdapat beberapa nilai sosial yang dikemukakan oleh pengarang. Di antaranya adalah mengenai sulitnya menjalani kehidupan sebagai seseorang yang miskin. Hal tersebut dapat diamati dalam kutipan berikut.

"Baginya tak ada jalan lain. Hidup tanpa ijazah pendidikan formal bagai mendaki gunung tanpa kaki."

Dalam cerpen ini, juga ditampilkan gambaran sosial kehidupan perkotaan yang suram. Dalam cerpen tersebut diceritakan mengenai kehidupan tokoh utama yang menyambung hidup di tengah-tengah kezaliman. Ia terpaksa menjadi seorang pembantu rumah tangga di sebuah tempat jual beli narkoba dan tempat lokalisasi wanita tunasusila. Hal tersebut dapat dilihat dalam kutipan berikut.

"Bertahun-tahun, ia hidup dalam dunia hitam yang dikutukinya dalam hati. Baginya tak ada jalan lain. Hidup tanpa ijazah pendidikan formal bagai mendaki gunung tanpa kaki. Mungkin keajaiban Tuhan pulalah yang telah menghantarkannya pada pekerjaannya saat ini. Berkali-kali majikannya, seorang bandar narkoba, menawarinya untuk bekerja sebagai pengedar barang haram tersebut sekaligus sebagai wanita tunasusila."

Monday, 8 October 2012

Mengapa Suatu Kalimat Disebut Efektif dan Tidak Efektif?

Mengapa Suatu Kalimat Disebut Efektif dan Tidak Efektif?--
Kalimat efektif adalah kalimat yang dengan sadar/ sengaja disusun untuk mencapai daya informasi yang tepat dan baik.

Perhatikan contoh berikut!
(1) Kepada siswa-siswi yang belum membayar uang sekolah diharap mendaftarkan diri pada tata usaha.
(2) Kepada para peserta tes diharap tenang.
(3) Untuk kegiatan ini membutuhkan dana yang tidak sedikit.
(4) Kegiatan itu diikuti para peserta yang terdiri dari siswa-siswi SMA.

Kalimat (1), (2), (3), (4) tidak efektif karena tidak menyampaikan pesan yang jelas, subjek kalimat tidak ada, atau keterangan tambahan yang kurang tepat.

Kalimat di atas seharusnya:
- Diharap siswa-siswi yang belum membayar uang sekolah segera membayar pada tata usaha.
- Para peserta tes harap tenang.
- Kegiatan ini membutuhkan dana yang tidak sedikit.
- Para peserta yang semuanya siswa-siswi SMA mengikuti kegiatan itu.

Keefektifan kalimat didukung oleh:
1. kesepadanan antara struktur bahasa dan jalan pikiran yang logis;
2. keparalelan (paralelisme) bentuk bahasa yang dipakai untuk tujuan efektivitas tertentu;
3. ketegasan dalam merumuskan pikiran utama;
4. kehematan dalam pilihan kata; dan
5. kevariasian dalam penggunaan kalimat.

Popular Posts