Blog Pelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah

Sunday, 27 October 2013

Membedakan Kata Sapaan dengan Kata Acuan

Membedakan Kata Sapaan dengan Kata Acuan--
Kata Sapaan
Perhatikan kalimat-kalimat berikut ini !
1. Silakan duduk, Pak Budi!
2. Dik, tolong ambilkan buku itu!
Kata bercetak miring dalam kedua kalimat tersebut merupakan contoh kata sapaan. Kata sapaan digunakan untuk menyapa seseorang yang diajak berbicara atau berkomunikasi, baik secara lisan maupun secara tertulis. Kata sapaan dapat berupa istilah kekerabatan, seperti: bapak, ibu, kakak, atau saudara. Kata sapaan dapat berupa nama jabatan atau pangkat, seperti: profesor, dokter, suster, atau kapten.

Aturan penulisan kata sapaan:
1. Huruf awal kata sapaan ditulis dengan huruf kapital.
Contoh:
Yah,kami berangkat ke sekolah!
Silakan masuk, Bu!

2.Apabila diikuti nama diri, sapaan dapat disingkat atau ditulis lengkap.
Contoh:
Silakan menikmati hidangan ini, Bu Siti!
Silakan menikmati hidangan ini, Ibu Siti!

3.Bentuk sapaan singkat dapat dipakai jika tidak disertai nama diri.
Contoh:
Sebenarnya adik saya ini sakit apa, Dok?
Kak, sebaiknya kita lewat jalan itu!

4. Bentuk sapaan ditulis dengan diikuti atau diawali tanda koma.
Contoh:
Bu, kapan kita menengok nenek?
Apakah saya boleh membelibuku ini, Pak?

Perhatikan pula kalimat-kalimat berikut!
1. Yang terhormat Kepala SMP Nusantara, kami mohon untuk memberi sambutan.
2. Yang mulia Sultan Hamengku Buwono meresmikan monumen ini.
3. Hadirin yang berbahagia, selamat datang di tempat ini.
4. Anak-anakku yang tercinta, marilah kita panjatkan doa bersama-sama.

Kata-kata bercetak miring pada keempat kalimat tersebut dalam bahasa lndonesia disebut kata sapaan hormat. Kata sapaan hormat tidak perlu diikuti nama orang dan tidak perlu diikuti kata "Bapak/Ibu".

Kata Acuan
Perhatikan pula kedua contoh kalimat-berikut!
1. Bagaimana kabar paman dan bibi di Jakarta?
2. Adik pergi ke rumah temannya sejak tadi pagi.
Kedua kata bercetak miring pada kedua kalimat tersebut disebut kata acuan. Kata acuan dalam kedua
kalimat tersebut digunakan untuk mengacu atau merujuk kepada orang yang dibicarakan. Kata acuan berkaitan pula dengan istilah kekerabatan seperti: bapak, ibu, kakak, saudara, dan nama jabatan serta pangkat, seperti profesor, dokter, atau kapten. Kata acuan yang tidak terdapat pada awal kalimat, huruf pertamanya tidak ditulis dengan huruf kapital.

Kata acuan juga biasa digunakan untuk mengacu hal-hal di bawah ini.
a. Sesuatu yang diketahui atau dikenal oleh pembicara dan lawan bicara.
Contoh:
Adisty pergi ke rumah kepala sekolah.
b. Sesuatu yang disebutkan sebelumnya.
Contoh:
Saya membeli bolpoin, Entah di mana bolpoin itu sekarang.

Coba perhatikan kalimat berikut ini!
1. Teman-teman selalu menjuluki Nunik si ratu komik.
2. Doni sering dipanggil si gendut oleh teman-temannya.
Pada kedua kalimat tersebut kata-kata panggilan sama dengan julukan. Seseorang biasanya memiliki kata panggilan atau julukan karena ia mempunyai kelebihan, kekhasan, dan keunikan dalam hal atau bidang tertentu yang membedakannya dengan orang lain. Misalnya, Nunik dalam kalimat (1) mempunyai julukan si ratu komik. Ia mendapat julukan itu karena mempunyai koleksi banyak komik dan mempunyai kegemaran membaca komik. Doni pada kalimat (2) mempunyai panggilan si gendut. Ia mendapat panggilan itu karena Doni bertubuh gendut.

Wednesday, 16 October 2013

Kalimat Sederhana

Kalimat Sederhana--
Perhatikan kalimat berikut:
- Rapat dibuka Ketua Karang Taruna.
Kalimat itu terdiri dari tiga kata/frase, yaitu: rapat, dibuka, dan Ketua Karang Taruna.
Ditinjau dari struktur kalimat, kata:
rapat = subyek
dibuka =predikat
ketua Karang Taruna = obyek
Jadi, kalimat itu terbentuk dari Subyek, Predikat, dan Obyek yang sederhana, maka kalimat tersebut dapat digolongkan kalimat sederhana.
Menurut strukturnya (adanya subyek, predikat, obyek dan keterangan) sebuah kalimat sederhana dalam bahasa Indonesia memiliki pola:
l) Subyek + Predikat
Contoh:
- Adik makan
- Ayahnya seorang pengacara.
- Rumah itu bagus.
2) Subyek + Predikat + Obyek
Contoh:
- Ibu membaca majalah
- Petani menanam padi.
- Wartawan menulis berita
3) Subyek + Predikat + Obyek + Keterangan
Contoh:
- Pedagang menjual kue di pasar
- Penduduk memperbaiki jalan hari Minggu
- Anak itu mengayam tikar setiap hari

Monday, 14 October 2013

Santun dalam Berdiskusi

Santun dalam Berdiskusi--
Kita sudah pernah membahas teks yang berbentuk tanya jawab atau dialog. Dalam dialog atau tanya jawab terdapat dua pihak atau lebih yang saling berkomunikasi, satu pihak menanyakan sesuatu, pihak lain menjawab pertanyaan, sehingga terjadi arus informasi.
Lain lagi dalam berdikusi. Dalam diskusi pihak-pihak yang terlibat bukan hanya sekadar bertanya jawab, tetapi terjadi interaksi yang lebih mendalam. Interaksi itu dapat berupa menyanggah pendapat, mengusulkan gagasan, menyempurnakan ide atau mencarikan jalan keluar pemecahan. Dalam diskusi terjadi pertukaran pikiran mengenai masalah untuk mendapatkan kesimpulan bersama.

Tujuan berdiskusi adalah untuk mendapatkan kesimpulan bersama. Jadi, dalam diskusi bukan hanya sekadar berdebat yang tidak ada ujung pangkalnya. Oleh karena itu, dalam berdiskusi harus ada santun atau tata cara diskusi.
Santun diskusi diantaranya:
l. harus menghormati pihak lain, tidak boleh menjelekkan pihak lain;
2. penyampaian usulan/gagasan setelah dipersilahkan oleh pemandu diskusi;
3. usulan/sanggahan materi harus berhubungan dengan masalah yang sedang dibahas; tidak menyinggung perasaan pihak lain; menggunakan bahasa yang baik, benar dan sopan.

Sunday, 6 October 2013

Menulis Pesan Singkat (Memo)

Menulis Pesan Singkat (Memo)--
Dalam keseharian kita, ada kalanya kita
tidak dapat menyampaikan pesan secara langsung kepada orang yang kita kehendaki. Apabila hal ini terjadi kita dapat menulis pesan singkat agar pesan atau informasi yang akan kita sampaikan dapat diterima oleh orang yang kita kehendaki. Di abad digital seperti sekarang, kamu tentu biasa menyampaikan pesan melalui SMS bukan?

Pesan singkat merupakan salah satu bentuk komunikasi yang biasa dilakukan seseorang kepada orang lain, baik di lingkungan suatu organisasi, kantor, atau di lingkungan tempat tinggal kita. Pesan singkat dapat disusun dan disampaikan secara lisan maupun tertulis. Karena berupa pesan singkat, kalimat yang digunakan harus efektif dan santun. Salah satu contoh pesan singkat yang digunakan untuk menyampaikan pesan-pesan kedinasan yang sifatnya resmi dan dalam keadaan mendesak adalah memo.

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam menulis memo antara lain, dari siapa memo berasal, kepada siapa memo ditujukan, apa isinya, tempat dan tanggal pembuatan memo, jabatan, tanda tangan, dan nama pembuat memo.

Perhatikan contoh memo:

a. Memo resmi/ dinas

Kepada : Kepala Tata Usaha
Dari : Kepala Sekolah
Hal : Surat undangan
Mohon buat secepatnya surat undangan untuk rapat persiapan ulangan umum. Rapat dilaksanakan, tanggal 25 Oktober 2013.

20 Oktober 2013
Raihan Nahdi, M.Pd.

b. Memo pribadi

Untuk: Mayda
Tolong kembalikan buku catatan bahasa lndonesia yang kamu pinjam karena besok ada ulangan. Aku tunggu di rumah ya.
Dari: Memey

Saturday, 5 October 2013

Membaca Perangkat Upacara

Membaca lndah Puisi--
Membaca perangkat upacara sebagaimana yang sering kamu lakukan ketika apel pagi setiap Senin merupakan hal yang menarik perhatian selain penaikan bendera dan vokal/ nyanyian yang bagus. Ketika kamu membaca, peserta upacara termasuk guru dan teman-temanmu akan menyimak cara membacamu. Makin baik, kesan yang baikpun pasti akan kamu dapatkan. Begitu pula sebaliknya, makin jelek, makin jelek pula kesan para peserta lainnya.

Membaca perangkat upacara, seperti UUD 1945, Doa, dan Susunan Upacara, harus dilakukan dengan nyaring. Perhatikan pula pada saat apa kamu harus jeda, memberi tekanan, dan intonasi yang tepat.
Ada baiknya, sebelum bertugas, kamu sudah berlatih membacanya di rumah dengan memberi tanda-tanda. Tanda (I) untuk jeda pengganti tanda koma, tanda (II) untuk hentian pertama, sedangkan tanda (#) untuk perhentian terakhir. Intonasi naik ditandai dengan (/) dan intonasi turun ditandai dengan (\). Selain itu perhatikan pula tanda (panah ke atas) untuk tekanan lembut dan tanda (panah ke bawah) untuk tekanan keras.

Selain jeda, tekanan, dan intonasi, hendaknya juga memperhatikan hal-hal berikut.
1. Kekuatan suara.
2. Tempo.
3. Volume.

Membaca lndah Puisi

Membaca lndah Puisi--
Membaca puisi pada hakikatnya hampir sama dengan berdeklamasi. Dalam berdeklamasi kita harus menghafal puisi tersebut. Pembacaan.puisi (poetry reading) dikatakan berhasil jika pendengarnya dapat ikut larut dalam puisi yang dibacakan. Untuk itu, kita harus memahami dan menghayati betul puisi yang akan dibacakan.

Membaca puisi dilakukan dengan nyaring disertai gerak dan mimik yang sesuai. Dalam membaca puisi, kamu diharapkan dapat mengekspresikan perasaan atau pesan penyair dalam puisinya. Hal yang pertama kali dilakukan sebelum membaca puisi adalah memberi tanda jeda atau tanda perhentian saat membaca.
Tanda (I) untuk jeda pengganti tanda koma, tanda (II) untuk hentian pertama, sedangkan tanda (#) untuk perhentian terakhir. Intonasi naik ditandai dengan (/) dan intonasi turun ditandai dengan (\). Selain itu perhatikan pula tanda (panah ke atas) untuk tekanan lembut dan tanda (panah ke bawah) untuk tekanan keras.

Selain jeda, tekanan, dan intonasi, hendaknya juga memperhatikan hal-hal berikut.
1. Kekuatan suara.
2. Ekspresi wajah atau mimik.
3. Gerak tubuh, kinesik, atau gestur.
4. Tempo.
5. Volume.

Dalam membaca puisi, hal yang terpenting adalah memahami puisi secara utuh.

Popular Posts